Siapa yang tidak kenal Ki Hajar Dewantara (KHD)? Wajahnya menghiasi buku sejarah sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Namun, tahukah Anda bahwa di balik sosoknya yang tenang, ia adalah seorang “pemberontak” radikal yang membuat pemerintah kolonial gemetar? Dari seorang jurnalis tajam hingga menjadi pelopor pendidikan, perjalanan hidupnya bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan perjuangan nyawa dan martabat.
Hal-hal Unik dan Inspiratif dari Sejarah KHD
1. Gagal Jadi Dokter Gara-Gara “Puisi Pemberontakan”
Banyak yang tahu KHD bersekolah di STOVIA (Sekolah Dokter Jawa), namun ia tidak pernah lulus. Selain faktor kesehatan, beasiswanya dicabut karena alasan politis: ia mendeklamasikan sajak tentang Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, panglima perang Pangeran Diponegoro, yang dianggap membangkitkan semangat pemberontakan terhadap Belanda. Kegagalan ini justru membawanya menjadi jurnalis “maut” yang tulisannya mampu membakar semangat kemerdekaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
2. Istri Hebat: Tulang Punggung di Masa Pembuangan
Saat KHD dibuang ke Belanda akibat artikel fenomenalnya Als ik eens Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), kehidupan ekonominya sangat memprihatinkan. Di masa sulit itu, istrinya, Nyi Hajar Dewantara (Sutartinah), menjadi pahlawan dengan bekerja sebagai guru di Fröbel School (Taman Kanak-kanak) di Weimar, Den Haag, untuk menyambung hidup keluarga. Pengalaman ini pula yang mematangkan pemikiran KHD tentang metode pendidikan anak.
3. Melepas Gelar Bangsawan Demi Menyatu dengan Rakyat
Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, ia adalah cucu dari Paku Alam III. Namun, pada usia 40 tahun, ia secara sadar menanggalkan gelar “Raden Mas” dan mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Hal ini dilakukan sebagai simbol bahwa ia telah menyatu sepenuhnya dengan rakyat yang diperjuangkannya.
4. “Selasa Kliwonan”: Akar Mistis Lahirnya Taman Siswa
Tahukah Anda bahwa Taman Siswa lahir dari sebuah kelompok diskusi kebatinan? Kelompok ini bernama “Selasa Kliwonan” yang dipimpin oleh Pangeran Suryomataram. Mereka berdiskusi mencari jalan untuk membahagiakan diri, bangsa, dan dunia (memayu hayuning bawono). Keputusannya: KHD ditugaskan menangani pendidikan anak-anak sebagai cara paling ampuh melawan penjajah.
5. Pendidikan adalah “Senjata Maut” yang Lebih Tajam dari Politik
Setelah kenyang masuk penjara dan dibuang karena jalur politik, KHD sadar bahwa pidato politik saja tidak cukup. Ia menyimpulkan bahwa jiwa merdeka harus ditanamkan sejak anak-anak. Baginya, mendidik adalah mempersenjatai rakyat; hanya manusia berjiwa merdeka yang sanggup merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kaitannya dengan Pendidikan Indonesia Saat Ini
Warisan KHD bukan hanya soal sejarah, tapi fondasi utama pendidikan kita. Konsep “Sistem Among” dan semboyan “Tut Wuri Handayani” yang kini menjadi motto Kementerian Pendidikan adalah bukti nyata bahwa pemikirannya tetap relevan.
Di era modern ini, semangat KHD kembali digalakkan melalui konsep kemerdekaan belajar. Seperti pesan KHD, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan otak, tapi pembentukan watak agar peserta didik memiliki jiwa yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain, dan tetap berakar pada budaya bangsa sendiri.
Mari kita teladani kegigihan Ki Hajar Dewantara: bahwa pendidikan adalah jalan panjang menuju kemerdekaan yang sesungguhnya!























