Hayo, ngaku deh. Kalau mendengar nama R.A. Kartini, apa yang pertama kali muncul di kepala kalian? Pasti lomba pakai kebaya di sekolah, sanggul yang bikin pusing, atau lagu “Ibu Kita Kartini” yang diputar setiap bulan April, bukan?
No offense, tapi Kartini itu sebenarnya jauh lebih keren dari sekadar simbol kebaya. Bayangkan saja, dia itu remaja perempuan yang hidupnya dibatasi dari dunia luar, tapi pemikirannya bisa tembus sampai ke Eropa. Kalau Kartini hidup di zaman sekarang, mungkin dia sudah menjadi influencer atau content creator yang vokal banget di media sosial.
Penasaran sisi lain Kartini yang jarang ada di buku sejarah sekolah? Simak 5 fakta unik ini yang bakal bikin kalian berpikir: “Wah, Kartini ternyata kita banget!”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Punya Nama Panggilan “Kuda Liar” (Si Paling Aktif!)
Kalian pikir Kartini itu perempuan pendiam yang cuma duduk manis di pojokan? Salah besar. Waktu kecil, Kartini itu lincah banget, tidak bisa diam, dan super aktif.
Saking aktifnya, orang-orang di sekitarnya memberikan dia julukan “Trinil” (nama burung yang lincah) dan “Kuda Liar”. Jadi, kalau kalian sering ditegur guru karena tidak bisa diam di kelas atau sering dibilang “lasak” sama orang tua, tenang saja. Kalian punya kemiripan sama Ibu Kartini. Energinya itu dipakai buat hal positif, yaitu rasa ingin tahu yang tinggi banget.
2. Vegetarian Sejati (Anak Healthy Lifestyle Banget)
Siapa di sini yang lagi diet atau mencoba jadi vegetarian? Ternyata, Kartini sudah duluan melakukan ini lebih dari 100 tahun yang lalu.
Kartini memilih jadi vegetarian (tidak makan daging) bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi karena alasan prinsip. Dia merasa kasihan sama hewan dan menganggap menjadi vegetarian itu seperti doa tanpa kata-kata kepada Tuhan. Prinsipnya benar-benar mirip seperti anak muda zaman sekarang yang peduli banget sama isu lingkungan dan kesejahteraan hewan.
3. Hobi Masak dan Punya Resep Viral
Kalau sekarang kita suka mencari resep viral di TikTok, Kartini dulu hobi banget eksperimen di dapur. Dia jago masak makanan Eropa dan Jawa.
Kerennya lagi, dia menulis resep-resepnya itu dalam aksara Jawa dan Bahasa Belanda supaya bisa dibaca sama teman-temannya di luar negeri. Salah satu menu andalannya adalah Ayam Besengek. Bisa dibilang, Kartini ini food vlogger versi zaman dulu yang suka berbagi resep ke teman-teman penanya.
4. Galau dan Curhat Lewat Surat (Versi Jadulnya Chatting/Thread)
Kalian pernah merasa kesepian, dikekang orang tua, terus curhat panjang lebar di Close Friend Instagram atau bikin thread di Twitter/X? Nah, Kartini juga begitu.
Bedanya, karena dulu belum ada internet, Kartini “curhat” lewat surat ke teman-teman penanya di Belanda, seperti Rosa Abendanon dan Stella Zeehandelaar. Isi curhatannya bermacam-macam. Mulai dari kekesalannya tidak boleh sekolah, mimpinya buat perempuan Indonesia, sampai membicarakan musik dan buku. Surat-surat inilah yang nantinya dikumpulkan jadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Jadi, buku itu sebenarnya adalah kumpulan “riwayat chat” Kartini yang penuh emosi dan visi.
5. Anak Indie Penikmat Musik dan Artsy
Selain kutu buku, Kartini juga punya jiwa seni yang tinggi alias artsy. Dia suka banget sama seni membatik. Batik karya Kartini bahkan pernah dikirim ke Belanda dan dikagumi di sana.
Soal selera musik, Kartini itu “anak indie” pada zamannya. Dia suka sekali mendengarkan Gamelan, terutama lagu yang judulnya Ginonjing. Buat dia, musik gamelan itu bisa bikin hati adem dan menenangkan pikiran. Tapi di sisi lain, dia juga terbuka sama musik Barat seperti piano. Daftar lagu favorit Kartini sangat lintas genre.
Kesimpulan
R.A. Kartini itu bukan cuma patung atau foto pajangan di dinding kelas. Dia adalah remaja yang punya mimpi, suka overthinking, pernah merasa terkekang, tapi tidak menyerah sama keadaan.
Jadi, buat kalian anak SMP yang lagi merasa buntu, susah izin main, atau punya mimpi yang dibilang “ketinggian” sama orang lain, ingat saja sama Kartini. Kalau dia bisa bikin perubahan besar cuma dari dalam kamar pingitan, kalian juga pasti bisa bikin dampak keren dengan cara kalian sendiri.
Challenge: Be The Next Kartini!
Kartini sudah berjuang mati-matian membukakan “gerbang” biar kita semua—perempuan maupun laki-laki—bisa sekolah, bebas berkreasi, dan punya mimpi tinggi. Dulu, dia berjuang pakai pena dan kertas di kamar yang sempit. Sekarang, dengan segala fasilitas dan gadget canggih yang kalian punya, giliran kalian yang ambil peran!
Jangan cuma jago repost kata-kata mutiara Kartini di status WA saja, yuk lakukan 3 hal simpel ini sebagai tanda terima kasih kita ke Ibu Kartini:
- Speak Up! Kalau ada hal yang tidak adil di sekolah atau lingkunganmu, jangan diam saja. Berani berpendapat dengan sopan dan cerdas itu keren.
- Break the Stereotype: Jangan mau dibilang “cewek nggak boleh gini” atau “cowok nggak boleh gitu”. Kalau itu positif dan bakat kamu ada di situ, gas terus!
- Support Your Bestie: Kartini selalu saling dukung sama sahabat-sahabatnya. Jadi, stop mem-bully atau julid. Jadilah teman yang saling menyemangati buat sukses bareng.
Ingat: Sejarah bukan cuma buat dihafal tanggalnya, tapi buat ditiru semangatnya. Buat Kartini bangga sama kalian, Gen Z!























